Haruskah Semua Waria Bercita-cita Operasi Kelamin Seperti Lucinta Luna?

Viralnya artis Lucinta Luna yang berhasil melakukan operasi ganti kelamin jadi buah bibir dimana-mana. Karena jarang sekali transgender atau operasi kelamin yang dapat berhasil di Indonesia karena resiko tinggi, mahalnya biaya operasi dan terbatasnya teknologi medis untuk menangani operasi tersebut. Pertanyaannya adalah apakah transgender atau operasi kelamin jadi cita-cita semua waria?

Kebanyakan mereka yang transgender berasal dari lingkungan yang bermasalah. Baik lingkungan keluarga maupun lingkungan sekitar. Misalnya anak perempuan yang semenjak kecil sering disuruh melakukan pekerjaan anak laki-laki, dipakaikan baju laki-laki, bergaul dengan laki-laki. Apabila jika mereka punya pengalaman yang tidak mengenakkan ketika bersama perempuan. Pikiran anak kecil yang menerima hal-hal tersebut selama bertahun-tahun dapat mempengaruhi mereka dalam menemukan atau menentukan jati diri sesuai keinginan mereka.


Begitu juga anak laki-laki yang sering bergaul dengan anak perempuan, dipakaikan baju perempuan, bermain permainan anak perempuan, orang tua yang tidak mengenalkan kepadanya bahwa dia itu laki-laki dan itu berlangsung selama bertahun-tahun akan berdampak pada karakter dan kondisi psikologis anak tersebut. Anak laki-laki tersebut akan merasakan kenikmatan berpakaian wanita dan bertingkah laku layaknya wanita. Padahal mereka secara fisik dan secara hormon tidak sama dengan wanita. Mereka menyebut diri mereka sebagai waria, the third gender.


Waria lebih banyak daripada kaum lesbian. Perempuan tomboi di Indonesia memang sering namun jarang ada yang sampai ke arah penyimpangan orientasi seksual. Perempuan tomboi cenderung lebih mudah diterima daripada waria. Di Indonesia, masih diterima jika perempuan bekerja dengan rambut pendek, memakai kaos dan celana seperti pria. Meskipun perempuan tomboi terkadang tidak dapat menutupi postur tubuh dan wajah wanitanya. Karakter cewek yang maskulin lebih mudah diterima daripada cowok yang feminim karena wanita tersebut dipandang lebih kuat dan lebih tegar setara dengan pria. Namun mereka akan mulai mengurangi sifat tomboinya ketika mendekati pernikahan atau saat jiwa keibuannya muncul ketika menggendong bayi. Karena memang begitulah kodrat wanita seharusnya. 


Sedangkan waria dari penampilannya saja sudah menjadi pusat perhatian karena masyarakat merasa aneh. Banyak pekerjaan laki-laki yang tidak dapat mereka handle. Gaya bicara dan bahasa tubuh laki-laki yang cenderung feminim membuat laki-laki tulen menghindari untuk berinteraksi dengannya karena takut ada apa-apa. Sebagai laki-laki tulen, itu sikap yang wajar. Dengan teknologi zaman now waria dapat dipermak menjadi cantik layaknya artis wanita terkenal. Secantik-cantiknya waria, laki-laki tulen tetap memilih wanita normal sebagai istrinya, 

Baca Juga : Fenomena Lucinta Luna, Pahami Transgender dan Operasi Kelamin dari Sisi Kesehatan


Mengapa Trangender, Waria, LGBT harus sembuh ?


Pertama, Allah hanya menciptakan gender laki-laki dan perempuan saja untuk manusia. Bahkan untuk hewan juga. Jadi pendapat waria sebagai jenis kelamin ketiga tertolak secara syari'at. Semua agama sepakat tentang hal ini.

Kedua, Masyarakat Indonesia masih belum mau menerima kehadiran waria sepenuhnya. Ini dikarenakan waria dikesankan sebagai pengamen, atau pria yang suka menggoda pria lainnya. Masyarakat juga tidak mau anak laki-lakinya terpengaruh. Maka dari itu waria sering ditempatkan di bidang-bidang kewanitaan seperti salon dan fashion. 

Ketiga, manusia akan memiliki kecenderungan seksual ketika memasuki masa pubertas. Tidak terkecuali waria. Waria menyukai laki-laki. Ini yang menyebabkan waria sulit diterima. Meskipun laki-laki yang disukai oleh waria juga memiliki kecenderungan menyukai sesama jenis, penyimpangan seksual tersebut mengakibatkan munculnya banyak virus atau penyakit berbahaya bagi kesehatan di kemudian hari. 

Apakah Waria harus mendapatkan dukungan?

Jawabannya perlu. Sangat perlu! Yang dimaksud dalam hal ini adalah dukungan untuk sembuh, bukan untuk melegalkan hubungan sejenis. Meskipun sudah banyak negara yang melegalkannya.

Bentuk dukungan yang dapat kita berikan untuk mereka adalah sebagai berikut :

1. Terimalah mereka sebagai manusia dengan cara yang manusiawi. Berikan rambu-rambu yang harus mereka patuhi supaya lingkungannya tetap kondusif untuk semua orang. Jangan mencaci mereka. Jangan mendiskriminasi mereka.

2. Hadiahkanlah mereka pakaian pria, parfum pria, dan segala sesuatu yang berbau maskulin. Pujilah mereka dengan kata-kata gagah ketika mereka berlaku seperti pria tulen. 

3. Tuntunlah mereka dalam mempelajari agama dengan baik. Tidak ada agama manapun yang menerima waria sebagai jenis kelamin ketiga. Bimbinglah mereka pelan-pelan sesuai kemampuan meeka. Ajarilah bahwa Allah itu Maha Penyayang bagi semua makhluknya, termasuk yang masih waria. Mereka masih punya kesempatan untuk kembali ke fitrahnya manusia.

4. Ciptakanlah lingkungan yang positif untuk waria. Bukan dengan membuat lingkungan khusus waria, tapi lingkungan yang mendukung waria untuk sembuh. Berikanlah mereka pekerjaan umum selain di salon atau fashion. Dengan syarat mereka ada keinginan untuk sembuh. Berikanlah pekerjaan yang maskulin seperti mengangkat barang, kurir, atau pekerjaan berat lainnya. Berikan sedikit kelonggaran saat mereka memulai pekerjaan prianya. Ajak mereka untuk bermain olahraga pria seperti sepak bola dan basket dengan pengawasan tentunya.

5. Kenalkanlah mereka wanita sebagai objek yang harus dilindungi dan dicintai. Sebagai pasangan hidup yang lebih dari sekedar teman ngobrol di salon. Sebagai tempat penyaluran hasrat biologis yang seharusnya. 

6. Pujilah setiap perubahan kecil yang mereka lakukan. Berhenti untuk membully mereka. Hormati setiap proses yang mereka jalani. Terkadang butuh sampai bertahun-tahun untuk benar-benar sembuh.

7. Bawa mereka kepada yang ahli dalam menangani masalah ini. Dukung mereka untuk melakukan konseling secara rutin. 


Sebaik apapun dukungan kita supaya mereka sembuh tidak akan berpengaruh apa-apa bagi waria yang memang tidak punya keinginan untuk sembuh. Namun kewajiban kita adalah memperlakukan mereka sebaik-baiknya sebagai manusia pada umumnya. Sembuh atau tidak biarlah Allah yang menentukan hasilnya.